Saturday, March 17, 2018

Makalah Agama Meneladani Perjuangan Dakwah Rasulullah SAW di Madinah

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Dakwah adalah kegiatan yang bersifat menyeru, mengajak, dan memanggil orang untuk beriman dan taat kepada Allah SWT sesuai dengan garis aqidah, syari’at dan akhlaq islam. Peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW ini bertepatan pada 12 Rabiul Awal tahun pertama hijriyah dan bertepatan pada tanggal 28 juni 621 Masehi. Hijrah adalah sebuah peristiwa pindahnya Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah atas perintah Allah SWT untuk memperluas wilayah penyebaran islam dan kemajuan islam itu sendiri.
Sebagai seorang muslim hendaknya kita mesti sejarah nabi Muhammad SAW baik ketika beliau dalam berdakwah sampai hijrah ke madinah dan diangkat sebagai Rasul Oleh karena itu kami mencoba untuk mengingatkan kembali akan sejarah dan perjalanan Nabi untuk selalu kita contoh dan kita teladani dalam kehidupan sehari-hari. Telah kita ketahui bersama bahwa umat islam pada saar sekarang ini lebih banyak mengenal figur-figur yang sebenarnya tidak pantas untuk di contoh dan ironisnya mereka sama sekali buta akan sejarah dan pri kehidupan Rasulullah SAW.

1.2 Rumusan Masalah
1.    Bagaimana Hijrah, Titik Awal Dakwah Rasulullah SAW. di Madinah ?
2.    Apa saja Substansi Dakwah Nabi di Madinah ?
3.    Bagaimana Strategi Dakwah Nabi SAW. di Madinah ?

1.3 Tujuan
1. Mangatahui dan memahami Hijrah, Titik Awal Dakwah Rasulullah SAW. di Madinah ?
2. Mengetahui dan memahami Substansi Dakwah Nabi di Madinah ?
3. Mengetahui dan memahami Strategi Dakwah Nabi SAW. di Madinah ?



BAB II
MENELADANI PERJUANGAN DAKWAH RASULULLAH SAW DI MADINAH

Perjalanan hijrah ke Madinah yang dilakukan oleh Rasulullah SAW. bukan merupakan cara untuk menghindari peperangan, akan tetapi menjadi salah satu strategi yang dilakukan oleh Rasulullah SAW. sebenarnya, dakwah periode Madinah ini sudah dimulai sebelum peristiwa hijrahnya Rasulullah SAW. yaitu saat terjadi perjanjian Aqabah 1 dan Aqabah 2. Perjanjian Aqabah merupakan suatu persiapan Rasulullah SAW. untuk Madinah dalam menciptakan keadan yang kondusif untuk menerima kedatangan beliau dan kaum Muhajirin yang hijrah ke Madinah.

2.1 Hijrah, Titik Awal Dakwah Rasulullah SAW. di Madinah
Sebelum hijrah ke Madinah, Nabi Muhammad SAW. telah berdakwah menyebarkan islam di Mekah baik secara sembunyi – sembunyi maupun terang-terangan.
Hijrah Rasulullah SAW. dan kaum muslimin bukan tanpa alasan. Ada berbagai faktor yang menjadi pemicu untuk melakukan hijrah, antara lain sebagai berikut :
Menyelamatkan diri dan umat islam dari tekanan, ancaman, dan kekerasan kaum kafir Quraisy.
Dalam penilaian Nabi Muhammad SAW. Mekah tidak lagi sesuai menjadi pusat dakwah islam.
Nabi Muhammad SAW. melihat tanda-tanda yang baik bagi perkembangan islam di Madinah.
Langkah hijrah ke Yatsrib (Madinah) dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW. atas perintah Allah SWT. setelah beliau berdakwah selama 13 tahun di Mekah tidak mendapatkan hasil yang memuaskan.

             
Faktor  yang mendorong Rasulullah SAW. untuk hijrah dari Kota Mekah adalah pembiokotan yang dilakukan oleh kafir Quraisy kepada Rasulullah SAW. dan para pengikutnya (Bani Hasyim dan Bani Mu’allib). Pemboikotan yang dilakukan oleh para kafir Quraisy mencakup hal-hal berikut :
Melarang setiap perdagangan dan bisnis dengan pendukung Nabi Muhammad SAW.
Tidak seorang pun berhak mengadakan ikatan perkawinan dengan orang muslim.
Melarang keras bergaul dengan kaum muslim.

2.2 Substansi Dakwah Nabi di Madinah

1. Membina Persaudaraan antara Kaum Anśar dan Kaum Muhajirin
Kehadiran Rasulullah SAW. dan Kaum Muhajirin (sebutan bagi pengikut Rasulullah SAW. yang hijrah dari Mekkah ke Madinah) mendapat sambutan hangat dari penduduk Madinah (Kaum Anśar). Mereka memperlakukan Nabi Muhammad SAW. dan para Muhajirin seperti saudara mereka sendiri. Sejak itulah, kota Yastrib diganti namanya oleh Rasulullah SAW. dengan sebutan “Madinatul Munawwarah”.  Strategi Nabi mempersaudarakan Muhajirin dan Anśar untuk mengikat setiap pengikut Islam yang terdiri atas berbagai macam suku dan kabilah ke dalam suatu ikatan masyarakat yang kuat, senasib, seperjuangan dengan semangat persaudaraan Islam.          
Nabi Muhammad saw. dalam menciptakan suasana agar nyaman dan tenteram di Kota Madinah, dibuatlah perjanjian dengan kaum Yahudi. Dalam perjanjiannya ditetapkan dan diakui hak kemerdekaan tiap-tiap golongan untuk memeluk dan menjalankan agamanya.

Isi perjanjian yang dibuat Nabi Muhammad SAW. dengan kaum Yahudi sebagai berikut :
Kaum Yahudi hidup damai bersama-sama dengan kaum Muslimin.
Kedua belah pihak bebas memeluk dan menjalankan agamanya masing-masing.
Kaum muslimin dan kaum Yahudi wajib tolong-menolong dalam melawan siapa saja yang memerangi mereka
Orang Yahudi memikul tanggung jawab belanja mereka sendiri dan sebaliknya kaum muslimin juga memikul belanja mereka sendiri
Kaum Yahudi dan kaum muslimin wajib saling menasihat dan tolong-menolong dalam mengerjakan kebajikan dan keutamaan.
Kota Madinah adalah kota suci yang wajib dijaga dan dihormat oleh mereka yang terikatmdengan perjanjian itu.
Kalau terjadi perselisihan di antara kaum Yahudi dan kaum muslimin yang dikhawatrkan akan mengakibatkan hal-hal yang tdak diinginkan, urusan itu hendaklah diserahkan kepada Allah SWT. dan Rasul-Nya.
Siapa saja yang tnggal di dalam ataupun di luar Kota Madinah wajib dilindungi keamanan dirinya kecuali orang zalim dan bersalah sebab Allah Swt. menjadi pelindung bagi orang-orang yang baik dan berbakti.

2. Membentuk Masyarakat yang Berlandaskan Ajaran Islam
Kebebasan beragama
Tujuan ajaran yang dibawa Nabi Muhammad SAW. adalah memberikan ketenangan kepada penganutnya dan memberikan jaminan kebebasan kepada kaum Muslimin, Yahudi, dan Nasrani dalam menganut kepercayaan agama masing-masing.
Azan, Shalat, Zakat, dan Puasa
Ketika Nabi Muhammad SAW. tiba di Madinah, bila waktu shalat tiba orang-orang berkumpul bersama tanpa dipanggil. Lalu terpikir untuk menggunakan terompet, seperti Yahudi. Tetapi Nabi tidak menyukainya, lalu ada yang mengusulkan menabuh genta, seperti Nasrani. Selanjutnya Nabi Muhammad SAW. memerintahkan kepada Abdullah bin Zaid bin Sa’labah untuk membacakan lapaẓ aẓan kepada Bilal dan menyerukannya manakala waktu śhalat tiba karena Bilal memiliki suara yang merdu.
Sementara itu, puasa yang telah dilakukan berdasarkan syariat sebelumnya, kini telah pula diwajibkan setiap bulan Ramadan. Demikian pula halnya dengan zakat. Bahkan, setelah kekuasaan Islam berkembang ke seluruh jazirah Arab, Nabi Muhammad saw. mengutus pasukannya ke negeri di luar Madinah untuk memungut zakat.

2.3 Strategi Dakwah Nabi SAW. di Madinah
1) Meletakkan dasar-dasar kehidupan masyarakat
            Dasar-dasar kehidupan bermasyarakat yang dibangun Nabi adalah sepert berikut :
Membangun masjid. Masjid yang dibangun Nabi Muhammad SAW. tidak saja dijadikan sebagai pusat kehidupan beragama (beribadah), tetapi sebagai tempat bermusyawarah, tempat mempersatukan kaum muslimin agar memiliki jiwa yang kuat, dan berfungsi sebagai pusat pemerintahan.
Membangun Ukhuwah Islamiyah. Dalam hal ini, Nabi Muhammad SAW. mempersaudarakan Kaum Anśar (Muslim Madinah) dengan Kaum Muhajirin
Menjalin persahabatan dengan pihak-pihak lain yang nonmuslim. Untuk menjaga stabilitas di Madinah, Nabi Muhammad SAW. menjalin persahabatan dengan orang-orang Yahudi dan Arab yang masih menganut agama nenek moyangnya.
Terbentuknya negara Madinah membuat Islam makin kuat. Pada sisi lain, timbul kekhawatiran dan kecemasan yang amat tinggi di kalangan Quraisy dan musuh-musuh Islam lainnya. Untuk itu, Nabi Muhammad SAW. mengatur siasat dan membentuk pasukan perang serta mengadakan perjanjian dengan berbagai kabilah yang ada disekitar Madinah.

Berikut diuraikan beberapa peperangan yang terjadi antara kaum muslimin dengan musuh-musuh mereka :
Perang Badar Perang
Badar merupakan peperangan yang pertama kali terjadi dalam sejarah Islam. terjadi pada tanggal kaum muslimin berhasil memperoleh kemenangan.
Perang Uhud
Pada tahun ke-3 Hijrah, Quraisy berangkat ke Madinah dengan membawa 3000 pasukan berunta, 200 pasukan berkuda, dan 700 orang di antara mereka memakai baju besi. Pasukan ini dipimpin oleh Khalid bin Walid. Kedatangan pasukan Quraisy ini disambut Nabi Muhammad SAW. dengan sekitar 1.000 pasukan. Ketika pasukan Nabi Muhammad SAW. melewat batas kota, Abdullah bin Ubay menarik 300 pasukan yang terdiri atas orang Yahudi dan kembali ke Madinah.
Dengan pasukan yang masih tersisa 700 orang, Mula-mula pasukan berkuda Khalid bin Walid gagal menembus dan menaklukkan pasukan pemanah Nabi. Pasukan Quraisy kocar-kacir. Namun, kemenangan yang sudah di ambang pintu gagal diraih karena pasukan Nabi Muhammad SAW. termasuk pasukan pemanah, tergoda oleh harta peninggalan musuh. Pasukan Khalid bin Walid berbalik menyerang, pasukan pemanah dapat dilumpuhkan dan satu per satu pasukan Nabi berguguran di medan pertempuran.
Perang Ahzab/Khandaq
Bani Nadir yang menetap di Khaibar berkomplot dengan musyrikin Quraisy untuk menyerang Madinah. Pasukan gabungan mereka berkekuatan 24.000 pasukan. Pasukan ini berangkat ke Madinah pada tahun ke-5 Hijrah. Atas usul Salman al-Farisi, umat Islam menggali Parit untuk pertahanan. Pasukan musuh yang hendak masuk ke Madinah tertahan oleh parit. Karena itu, mereka mengepung Madinah dengan membangun kemah-kemah di luar parit. Pengepungan ini berlangsung selama satu bulan dan berakhir setelah badai kencang menerpa dan memporak- porandakan kemah-kemah mereka.
Perang Hunain
Meskipun Mekkah telah ditaklukkan, tidak semua suku Arab bersedia tunduk kepada Nabi Muhammad SAW. Ada dua suku yang masih melakukan perlawanan terhadap Nabi Muhammad SAW. yaitu Bani Ṣaqif di Ṭaif dan Bani Hawazin di antara Mekkah dan Ṭaif. Kedua suku ini berkomplot melawan Nabi Muhammad SAW. dengan alasan menuntut balas atas berhala-berhala mereka (yang ada di Ka’bah) yang dihancurkan oleh tentara Islam ketika penaklukan Mekkah. Dengan kekuatan 12.000 pasukan di bawah pimpinan Nabi Muhammad SAW. tentara Islam berangkat menuju Hunain. Dalam waktu singkat Nabi Muhammad SAW. dan pasukannya dapat menumpas pasukan musuh.
2) Surat Nabi Muhammad SAW Kepada Para Raja
Genjatan senjata antara Nabi Muhammad SAW. dengan musyrikin Quraisy telah memberi kesempatan kepada Nabi Muhammad SAW. untuk melirik negeri-negeri lain sambil memikirkan cara berdakwah ke sana. Salah satu cara yang ditempuh Nabi Muhammad SAW. adalah dengan berkirim surat kepada raja-raja, para penguasa negeri-negeri tersebut. Di antara raja-raja yang dikirimi surat oleh Nabi Muhammad SAW. adalah raja Gassan, Mesir, Abisinia, Persia, dan Romawi. Tidak satu pun dari raja-raja tersebut menyambut dan menerima ajakan Nabi Muhammad SAW.
3) Penaklukan Mekkah
Pada tahun ke-6 Hijrah, ketka haji telah disyariatkan, Nabi Muhammad SAW. dengan 1.000 orang kaum muslimin berangkat ke Mekkah untuk melaksanakan ibadah haji. Karena itu, Nabi Muhammad SAW. beserta kaum muslimin berangkat dengan pakaian iḥram dan tanpa senjata. Sebelum sampai di Mekkah, tepatnya di Hudaibiyah, Nabi Muhammad SAW. dan kaum muslimin tertahan dan tidak boleh masuk ke Mekkah. Sambil menunggu izin untuk masuk ke Mekkah, Nabi SAW. dan kaum muslimin berkemah di sana. Nabi Muhammad SAW. dan kaum muslimin tidak mendapat izin memasuki Mekkah dan akhirnya dibuatlah Perjanjian Hudaibiyah.
Perjanjian Hudaibiyah berisi lima kesepakatan, yaitu :
Kaum muslimin tidak boleh mengunjungi Ka’bah pada tahun ini dan ditangguhkan sampai tahun depan.
Lama kunjungan dibatasi sampai tiga hari saja.
Kaum muslimin wajib mengembalikan orang-orang Mekkah yang melarikan diri ke Madinah. Sebaliknya, pihak Quraisy menolak untuk mengembalikan orang-orang Madinah yang kembali ke Mekkah.
Selama sepuluh tahun dilakukan genjatan senjata antara masyarakat Madinah dan Mekkah, dan tiap kabilah yang ingin masuk ke dalam persekutuan kuam Quraisy atau kaum muslimin, bebas melakukannya tanpa mendapat rintangan.
Dengan adanya perjanjian ini, harapan untuk mengambil alih Ka’bah dan menguasai Mekkah kembali terbuka. Ada dua faktor yang mendorong Nabi Muhammad SAW. untuk menguasai Mekkah. Pertama, Mekkah adalah pusat keagamaan bangsa Arab. Apabila Mekkah dapat dikuasai, penyebaran Islam ke seluruh Jazirah Arab akan dapat dilakukan. Kedua, orang-orang Quraisy adalah orang-orang yang mempunyai kekuasaan dan pengaruh yang besar.
Dengan dikuasainya Mekkah, kemungkinan besar orang-orang Quraisy, yang merupakan suku Nabi Muhammad SAW. sendiri, akan memeluk Islam. Dengan Islamnya orang-orang Quraisy, Islam akan mendapat dukungan yang besar. Setahun kemudian, Nabi Muhammad SAW. bersama kaum muslimin melaksanakan ibadah haji sesuai dengan perjanjian. Dalam kesempatan ini banyak penduduk Mekkah yang masuk Islam karena melihat kemajuan yang diperoleh oleh penduduk Madinah.




BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Kesimpulan dari makalah ini adalah bahwasanya Nabi Muhammad SAW merupakan Nabi dan Rasul yang diutus kepada manusia untuk memberikan bimbingan kepada jalan yang lurus dengan perjuangan yang gigih. Beliau berhasil merubah kebiasaan umat manusia dari keburukan kepada jalan kebenaran untuk menyembah allah SWT.
Dan bagaimana kita sebagai umat islam untuk menjadikan beliau sebagai contoh dan suri tauladan bagi kita dalam kehidupan sehari-hari. Baik dalam lingkungan keluarga, agama, masyarakat, dan bernegara.
Substansi Dakwah Nabi di Madinah Membina Persaudaraan antara Kaum Anśar dan Kaum Muhajirin, dan Membentuk Masyarakat yang Berlandaskan Ajaran Islam.Strategi Dakwah Nabi SAW. di Madinah Membina Persaudaraan antara Kaum Anśar dan Kaum Muhajirin, Nabi Muhammad SAW. Mengirimi Surat kepada para raja, dan penaklukan Mekkah

3.2 Saran
Untuk lebih mempertebal keimanan kita terhadap Rasululah SAW. Kita harus selalu meyakini apa yang dilaksanakan oleh Rasullulah merupakan landasan untuk kita bertindak, agar setiap apa yang kita lakukan atau laksanakan sesuai dengan sunah rasul serta mendapat Ridho dari Allah SWT.
Kritik dan saran yang membangun sang at kami harapkan dari berbagai pihak. Kami menyadari bahwa makalah ini banyak kekurangan sehingga perlu disempurnakan lagi di kesempatan yang akan datang.

DAFTAR PUSTAKA

  http://www.teskerja.com/2014/09/baru-download-buku-sma-kelas-10.html
Samsul Munir Amin, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: Amzah, 2010)
Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: Rajawali Pers)
Murodi, Sejarah Kebudayaan Islam, (Semarang: PT Karya Toha Putra, 2009)
http://kajian-muslimah.blogspot.com/2005/05/shirah-tentang-fase-dakwah-di-madinah.htm







    

No comments:

Post a Comment